Postingan

Pasar

Siang itu pulang sekolah matahari sedang terik-teriknya penjual menjajakan barang, berteriak, dan menawarkan "ayo dibeli kepintarannya! diobral-diobral akalnya kak, jurus cerdas, sistem kebut, jenius murah meriah kak, wangsit cuma dua puluh lima juta bonus universitas negeri" penjual tersenyum lebar, pembeli sumringah "mehh.." -ra

Dehidrasa

ia terbangun tengah malam teringat sesuatu yang membuat hidupnya nyaman. yaitu teman tidurnya, teman makannya, ataupun teman liburannya. ia mulai mencarinya ada yang harus ia lakukan sebelum matahari muncul dan mengalahkannya. satu hal, ia tak suka dikalahkan oleh matahari, ataupun dirinya sendiri. saat membuka kulkas ia sadar,  bukan butuh air, tapi... butuh kamu. Textbook -ra

Gulma

Ada dua alang-alang. Mereka minum dari satu sungai. Satunya palsu, lainnya tebu. -ra

Satu Padu

Pernah mendengar suatu kisah tentang Majnun dan Laila? Kurang lebih ceritanya seperti ini.. Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit. Badannya semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi. Para tabib menyarankan bedah, “Sebagian darahnya harus dikeluarkan, sehingga suhu badan menurun.” Majnun menolak, “Jangan! jangan melakukan bedah terhadap saya.” Para tabib pun bingung, “Kamu takut? padahal selama ini kamu masuk keluar hutan seorang diri. Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?” “Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun. “Lalu, apa yang kau takuti?” “Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.” “Menyakiti Layla? bagaimana bisa? Yang di bedah badanmu.” “Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku. Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.” Jangan jadi budak cinta, yang akan membahayakan dirimu sendiri -ra

Bunga

Dia bilang, dia ingin menjadi bunga di kebunmu. Jadi kau bisa menyimpannya dan menjadikannya sebagai penanda buku. "Kau suka membaca banyak buku", katanya. Karena itu, ia ingin berada disetiap hal-hal yang membuatmu tertarik dan dimasukkanya ke dalam hal-hal yang kau sukai. "Aku ingin menyaksikan bagaimana matanya berbinar setiap kali ia menemukan pelariannya dari setiap baris dan halaman". Kadang-kadang hal kecil mengambil bagian paling banyak dalam hati mereka. Tapi kau tidak memetik bunga itu dan sayangnya dia keliru berpikir dia bunga satu-satunya di kebunmu. - ra

Masa Kecil

Dia tertawa kecil ketika mengingat dulu pernah menculik anak ayam pakai jaring. Sial, ketahuan induknya. Akhirnya dia dikejar. Untung ada bapak-bapak yang menolong dia, diusirnya induk ayam itu sambil tertawa. Teringat juga ketika dia melompat-lompat di pinggiran sawah berlomba dengan ayahnya dan akhirnya jatuh masuk lumpur, atau ikut kakek mencari keong untuk makan bebek. Muncul juga bayang-bayang Kiki, anak kambing yang membuatnya terpana sampai ingin memegangnya tapi takut juga. Kalau bisa, bolehkah sekali lagi, dia kembali memeluk kehidupannya itu? Menangislah dia, mengasihani hidupnya. kini ia dipaksa sendiri, berjuang hidup mandiri. "Aku akan baik-baik saja" Ia terus meyakinkan dirinya sendiri. mengingat niatnya yang sangat kuat. "Sekali lagi aku akan baik-baik saja" -ra

Pulang

Dua bulan ini Kau hancur dan tersusun lagi ribuan kali Perutmu yang lembah Kini menjadi bukit dijejal kopi yang lama kelamaan menjadi imun bagi matamu Hingga suatu subuh Kepalamu meledak dan hilang separuh punggungmu retak, kakimu dingin seperti tak mengenal jalan-jalan yang biasa kau lewati Dokter pun meresepkan sirup yang rasanya seperti gurauan ayah, pelukan ibu, dan masa kecilmu Penasaran, kau pun bertanya ------------ "obat apa ini dok..?" "ohh itu barang baru, namanya 'pulang'" ------------ dan memang benar, tak ada obat yang lebih ampuh selain pulang pulanglah ada yang menantimu di sana, di rumah -ra

Pusara

Angin masih terus berhembus daun menampar wajah debu menggapai mata rintik mulai jatuh sedikit-sedikit juga harum bunga perhatian yang ditabur Tak kusangka sekelebat orang asing datang menyangga payung hitam berdiri di belakang, tak aku hiraukan "untuk siapa kau menangis?" aku menoleh sebentar berdiri sambil menatap pusara Di bawah sana banyak daging berteriak ingin kembali dihidupkan. Di atas sini banyak juga orang yang meneriakan aku benci kehidupan "untuk dia yang tersingkir dan mati" ujarku parau "diriku yang dulu" - ra

Bukan Apa-apa

Kau tau? mengapa petani membakar sisa-sisa panennya di ladang atau sawah mereka? dulu aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri.. dari kecil aku memang suka menanyakan hal-hal kecil yang menurutku butuh sebuah alasan bagi setiap pertanyaan. lalu, aku menemukan jawabannya sekarang. aku tahu kini, sambil menyeringai puas. 'bertanya dan menjawab sendiri' Setiap makhluk hidup itu punya zat-zat kimia penting dalam tubuh mereka yang jika dibiarkan mati-membusuk di situ zat-zatnya akan menyerap ke tanah dan akan diserap kembali oleh akar tumbuhan berikutnya. itulah mengapa abu dari tumbuhan yg dibakar setelah panen akan mereka sebarkan lagi sebagai pupuk alami. -ra

Penyamun

Penyamun itu mempunyai Kekasih yang selama ini ia sembunyikan dalam ingatan. Sedang suntuk membaca dan sesekali tertawa. Perempuan itu mengangkat kaki kanannya, kemudian menumpangkannya ke yang kiri. Ia telah berpindah dari dunia nyata ke dunia imajinasinya atau dunia petualangannya atau dunia yang ia dambakan jauh dari buku-bukunya. Disaat lengah, penyamun itu mencuri-curi apa saja yang ia bisa dapatkan juga tak diketahui puan itu. Tapi penyamun itu tak pernah tahu, apa yang dicuri dari dirinya ternyata lebih berharga dari yang ia dapatkan. Pernah tidak aku bilang bahwa kau itu cukup lihai? -ra