Pusara
Angin masih terus berhembus daun menampar wajah debu menggapai mata rintik mulai jatuh sedikit-sedikit juga harum bunga perhatian yang ditabur Tak kusangka sekelebat orang asing datang menyangga payung hitam berdiri di belakang, tak aku hiraukan "untuk siapa kau menangis?" aku menoleh sebentar berdiri sambil menatap pusara Di bawah sana banyak daging berteriak ingin kembali dihidupkan. Di atas sini banyak juga orang yang meneriakan aku benci kehidupan "untuk dia yang tersingkir dan mati" ujarku parau "diriku yang dulu" - ra