Postingan

Bunga

Dia bilang, dia ingin menjadi bunga di kebunmu. Jadi kau bisa menyimpannya dan menjadikannya sebagai penanda buku. "Kau suka membaca banyak buku", katanya. Karena itu, ia ingin berada disetiap hal-hal yang membuatmu tertarik dan dimasukkanya ke dalam hal-hal yang kau sukai. "Aku ingin menyaksikan bagaimana matanya berbinar setiap kali ia menemukan pelariannya dari setiap baris dan halaman". Kadang-kadang hal kecil mengambil bagian paling banyak dalam hati mereka. Tapi kau tidak memetik bunga itu dan sayangnya dia keliru berpikir dia bunga satu-satunya di kebunmu. - ra

Masa Kecil

Dia tertawa kecil ketika mengingat dulu pernah menculik anak ayam pakai jaring. Sial, ketahuan induknya. Akhirnya dia dikejar. Untung ada bapak-bapak yang menolong dia, diusirnya induk ayam itu sambil tertawa. Teringat juga ketika dia melompat-lompat di pinggiran sawah berlomba dengan ayahnya dan akhirnya jatuh masuk lumpur, atau ikut kakek mencari keong untuk makan bebek. Muncul juga bayang-bayang Kiki, anak kambing yang membuatnya terpana sampai ingin memegangnya tapi takut juga. Kalau bisa, bolehkah sekali lagi, dia kembali memeluk kehidupannya itu? Menangislah dia, mengasihani hidupnya. kini ia dipaksa sendiri, berjuang hidup mandiri. "Aku akan baik-baik saja" Ia terus meyakinkan dirinya sendiri. mengingat niatnya yang sangat kuat. "Sekali lagi aku akan baik-baik saja" -ra

Pulang

Dua bulan ini Kau hancur dan tersusun lagi ribuan kali Perutmu yang lembah Kini menjadi bukit dijejal kopi yang lama kelamaan menjadi imun bagi matamu Hingga suatu subuh Kepalamu meledak dan hilang separuh punggungmu retak, kakimu dingin seperti tak mengenal jalan-jalan yang biasa kau lewati Dokter pun meresepkan sirup yang rasanya seperti gurauan ayah, pelukan ibu, dan masa kecilmu Penasaran, kau pun bertanya ------------ "obat apa ini dok..?" "ohh itu barang baru, namanya 'pulang'" ------------ dan memang benar, tak ada obat yang lebih ampuh selain pulang pulanglah ada yang menantimu di sana, di rumah -ra

Pusara

Angin masih terus berhembus daun menampar wajah debu menggapai mata rintik mulai jatuh sedikit-sedikit juga harum bunga perhatian yang ditabur Tak kusangka sekelebat orang asing datang menyangga payung hitam berdiri di belakang, tak aku hiraukan "untuk siapa kau menangis?" aku menoleh sebentar berdiri sambil menatap pusara Di bawah sana banyak daging berteriak ingin kembali dihidupkan. Di atas sini banyak juga orang yang meneriakan aku benci kehidupan "untuk dia yang tersingkir dan mati" ujarku parau "diriku yang dulu" - ra

Bukan Apa-apa

Kau tau? mengapa petani membakar sisa-sisa panennya di ladang atau sawah mereka? dulu aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri.. dari kecil aku memang suka menanyakan hal-hal kecil yang menurutku butuh sebuah alasan bagi setiap pertanyaan. lalu, aku menemukan jawabannya sekarang. aku tahu kini, sambil menyeringai puas. 'bertanya dan menjawab sendiri' Setiap makhluk hidup itu punya zat-zat kimia penting dalam tubuh mereka yang jika dibiarkan mati-membusuk di situ zat-zatnya akan menyerap ke tanah dan akan diserap kembali oleh akar tumbuhan berikutnya. itulah mengapa abu dari tumbuhan yg dibakar setelah panen akan mereka sebarkan lagi sebagai pupuk alami. -ra

Penyamun

Penyamun itu mempunyai Kekasih yang selama ini ia sembunyikan dalam ingatan. Sedang suntuk membaca dan sesekali tertawa. Perempuan itu mengangkat kaki kanannya, kemudian menumpangkannya ke yang kiri. Ia telah berpindah dari dunia nyata ke dunia imajinasinya atau dunia petualangannya atau dunia yang ia dambakan jauh dari buku-bukunya. Disaat lengah, penyamun itu mencuri-curi apa saja yang ia bisa dapatkan juga tak diketahui puan itu. Tapi penyamun itu tak pernah tahu, apa yang dicuri dari dirinya ternyata lebih berharga dari yang ia dapatkan. Pernah tidak aku bilang bahwa kau itu cukup lihai? -ra

Ramadan

Ramadan kali ini jadi bulan banyak kenangan. Banyak silahturahmi yang mungkin nanti, saat kuliah akan sulit untuk bisa kumpul lagi. Uangku terkuras habis. Banyak buka puasa SD, SMP, SMA, Teman dekat, Ekskul. Tapi aku puas. Malamnya sampingku nenek tua yang rajin datang ke surau. Ditengah salat, kakinya sudah tidak kuat. Maka ia salat sambil duduk. Tak jadi alasan bagi dirinya untuk bilang, "aku sakit, aku tak tarawih hari ini". Aku tersenyum kagum. Masa aku kalah sama nenek-nenek? Paginya terlambat bangun sahur, tapi malah membuatku terjaga sepanjang hari, membuatku mengerti apa maksud dari video human body haemostasis yang menghabiskan banyak kuota malam sebelumnya. Penyakitnya mengantuk, kubilang pergilah. Jangan kau ketuk jiwa-jiwa remaja indonesia. Kami ingin sukses. Kami ingin merdeka sesuai persepsi diri kami masing-masing. -ra

Kehidupan SMA

Makan. Tidur. Belajar. Pada dasarnya itulah kegiatanku. Banyak yg bilang hidupku ini membosankan. Tapi aku merasa puas puas saja. Toh cuma itu keahlianku. "Pernah tidak sih kalian buka buku kalian? Kali ini tidak. Ibu tidak akan katrol atau beri kalian nilai lebih. Aku tak akan memanjakan kalian lagi." 'Toh aku sih tidak membutuhkan semua itu, aku sudah belajar semingguan untuk ujian ini. Omong-omong nilai ujianku berapa ya? Soal ujiannya gampang banget. Jadi paling enggak bisa dapet 85' Melihat kertas ulangan "68" 'Sial..' -ra

Bulan biru

Malam ini langit terlihat terang walaupun warnanya tidak jingga seperti biasanya. Malam ini langit terlihat biru, katanya malam ini ada bulan biru berkunjung menjenguk langit biru. Malam ini debu berkilau pun tetap terlihat walaupun langit kota terlihat terang. Malam ini pukul 00.01 dan besok ujian, waktu tak pernah menunggu  aku siap atau tidak.  - ra

Alibi

Hari ini, aku memutuskan untuk merenung saja, kuhentikan jam belajarku dari biasanya. lagipula lemari-lemariku penuh  sesak. muncul ribuan bahasa yang tak satu pun aku mengerti. Sialnya satu dari sejuta kemungkinan diantaranya, satu dengan yang lain dapat bersinggungan.  Hanya aku dan suara-suara dikepalaku saja yang mengerti dan hanya kau serta teman- teman di hatimu saja yang pahami. coretan ini tak pernah hanya untuk mengelabui diri sendiri. Suatu hari nanti, saat kata-kata tak lagi didengar dan berbicara mulai membosankan. aku berdoa semoga menulis tak pernah membosankan. -ra